Berada di Kasta Ketiga Menuju ke Premier League dan Masa Transisi (2008-2015)
Kampanye 2008-09 ialah musim pertama Leicester di luar dua level paling atas sepak bola Inggris, tapi mereka capai nadir ini cuma tujuh tahun sebelum jadi juara Liga Premier 2015-16 - peningkatan tujuh tahun paling cepat ke pucuk liga sepak bola Inggris skema terpisah dari Kota Ipswich di tahun 1962. [33] Mengejar kemunduran ke tingkat ke-3 musim awalnya, Leicester kembali pada Championship pada usaha pertama pada 2008-09, usai untuk juara League One sesudah menang 2-0 di Southend United, dengan dua laga di tangan. Musim 2009–10 melihat kebangkitan Leicester di bawah manager Nigel Pearson bersambung, saat club ada di posisi ke-5 serta capai play-off Championship pada musim pertama mereka pada tingkat ke-2. Walau tiba dari agregat 2-0, jauh ke Cardiff City, untuk pimpin singkat 3-2, mereka pada akhirnya kalah dari beradu penalti di semi-final play-off. Di akhir musim, Pearson tinggalkan Leicester menjadi manager Hull City, mengakui ia berasa club nampaknya malas mempertahankannya, serta jika Paulo Sousa sudah jadi tamu club di ke-2 laga play-off, menyaratkan peluang pergantian. Pada 7 Juli 2010, Sousa dilakukan konfirmasi untuk alternatif Pearson.
Pada bulan Agustus 2010, sesudah persetujuan tentang persetujuan sponsor kaos semasa 3 tahun dengan pengecer bebas pajak, King Power Grup, Mandarić jual club itu ke konsorsium Asian Football Investments (AFI) yang diperintah Thailand, yang dimotori oleh Vichai Srivaddhanaprabha dari King Power Grup. [35 ] Mandarić, seorang investor di AFI, [36] dipertahankan untuk ketua club. [37] Pada 1 Oktober 2010, sesudah awal yang jelek yang membuat Leicester ada di rangking terikuth Kejuaraan dengan cuma satu kemenangan dari sembilan laga liga pertama, Paulo Sousa dikeluarkan oleh club dengan dampak langsung. [38] 2 hari selanjutnya, Sven-Göran Eriksson, yang sudah dihampiri oleh club sesudah kalah 6-1 dari Portsmouth, dua minggu awalnya, dipilih untuk substitusinya, tanda-tangani kontrak 2 tahun dengan [rujukan?] Pada 10 Februari 2011, Vichai Raksriaksorn, sisi dari konsorsium Asia Football Investments yang berbasiskan di Thailand, diangkat untuk ketua baru club sesudah Mandarić pergi pada November untuk menggantikan Sheffield Wednesday.
Leicester dilihat untuk salah satunya favorite untuk promo pada musim 2011-12, tapi pada 24 Oktober 2011, sesudah awal yang tidak persisten dengan The Fox memenangi cuma 5 dari 13 laga pertama mereka, Eriksson tinggalkan club dengan kesepakatan bersama-sama. [40 ] Tiga minggu selanjutnya, Nigel Pearson kembali pada club untuk penerus Eriksson. Pearson tetap akan pimpin The Foxes ke posisi ke enam pada musim 2012-13, pastikan Leicester ada di play-off Championship. Tetapi, Leicester kehilangan semi-final playoff 3-2 agregat ke Watford sesudah Anthony Knockaert tidak berhasil menyelesaikan penalti serta Troy Deeney cetak gol pas diakhir sesudah serbuan balik cepat dari pengamanan ganda Manuel Almunia.
Di tahun 2014, pawai Leicester sampai skema liga capai terobosan. Kemenangan 2-1 di kandang mereka atas Sheffield Wednesday, digabungkan dengan kekalahan dari Queens Park Rangers serta Derby County, membuat Leicester City mendapatkan promo ke Liga Premier sesudah mangkir sepuluh tahun. Terakhir bulan itu, kemenangan di Bolton membuat Leicester jadi juara Kejuaraan 2013–14, yang ke-7 kalinya mereka jadi juara tingkat ke-2 Inggris.
Leicester mengawali musim pertama mereka di Liga Premier semenjak 2004 dengan hasil baik dalam lima laga liga pertama mereka, diawali dengan hasil seimbang 2–2 di hari pembukaan menantang Everton. [42] The Foxes selanjutnya mengakui kemenangan Liga Premier pertama mereka semenjak Mei 2004, dengan kemenangan 0-1 di Stoke City. [43] Pada 21 September 2014, Leicester meneruskan untuk membuahkan salah satunya serbuan balik paling besar dalam riwayat Liga Premier untuk menaklukkan Manchester United 5–3 di Stadion King Power sesudah datang dari tertinggal 3-1 dengan 30 menit sisa untuk cetak 4 gol. Mereka membuat riwayat Liga Premier dengan jadi team pertama yang menaklukkan Manchester United dari defisit 2 gol semenjak liga dikeluarkan di tahun 1992.
Semasa musim 2014-15, performa yang muram membuat team tergelincir ke fundamen klassemen liga dengan cuma 19 point dari 29 laga. Pada 3 April 2015, mereka tertaut tujuh point dari keselamatan. Ini dapat bawa akhir yang mendadak untuk peningkatan tujuh tahun Leicester, tapi tujuh kemenangan dari sembilan laga liga paling akhir mereka bermakna Foxes mengakhiri musim dalam tempat ke-14 dengan 41 point. Mereka mengakhiri musim ini dengan meronta-ronta 5-1 dari Queens Park Rangers. Perkembangan mereka dalam hasil dilukiskan untuk salah satunya yang paling besar di Liga Premier yang sempat berhasil lolos dari kemunduran. [45] [46] Mereka jadi team ke-3 dalam riwayat Liga Premier yang bertahan sesudah ada di tempat terikuth waktu Natal (dua yang lain ialah West Bromwich Albion pada 2005 serta Sunderland pada 2014), serta tidak ada team dengan point kurang dari 20 dari 29 laga yang awalnya masih bertahan.
